Film ini banyak mengungkap perjuangan dan kisah cinta Buya Hamka kepada Siti Raham, istri yang mendampinginya dalam susah dan senang. Sebagai pendakwah, Buya Hamka sempat merasakan mendapat tekanan dari pihak militer saat itu. Namun dirinya selalu berusaha menyatukan para ‘alim ulama dengan pihak militer Indonesia di Sumatera Utara.
Ketika Buya ditangkap dan masuk bui akibat fitnah dan tuduhan melawan pemerintahan, saat itu dipimpin oleh Presiden Soekarno, penguat mentalnya adalah sang istri, Siti Raham. Siti Raham selalu berusaha menampilkan wajah senyum tanpa rasa sedih saat menemui Buya Hamka di penjara. Kebesaran hati Buya Hamka terlihat saat dirinya ditunjuk untuk menjadi imam shalat jenazah mantan presiden pertama RI.