Bagas tidak pernah berani menyatakan cintanya langsung kepada Ajeng karena Bagas sadar bahwa wanita yang dicintainya adalah seorang gadis kaya, cantik, populer dan keturunan ndoro (darah biru) di kota Solo, tidak seperti dirinya yang hanya anak seorang petani kecil. berusaha mendapatkan gelar dari beasiswa.
Sedangkan RM Cokrodiningrat dan Rahayu, orang tua Ajeng, berniat menjodohkan Ajeng dengan Satrio, calon dokter muda berdarah biru yang sangat dibanggakan oleh orang tua Ajeng. Ayah Satrio adalah seorang dokter spesialis jantung yang selama ini menangani Pak Cokro. Tak rela menikah dengan pria lain, Bagas memberanikan diri menemui Pak Cokro dan Bu Rahayu.